Sebelum artikel berlanjut, yang perlu ditandai dalam tulisan ini adalah kami membutuhkan saran-saran dari Blogger yang sudah lebih ahli soal dekorasi interior di rumah kita yang lumayan luas ini --luas buat kucing. Saran-saran dari Kompasianer bisa disampaikan melalui video yang ada di sini: Enaknya Rumah Ini Mau Diapain, ya? - Homelegion #01
---
Akhirnya setelah lebih dari 7 bulan menikah, kita memutuskan untuk pindah dan terpisah dari rumah orang tua. Pada awalnya saya sendiri agak sedikit ragu, kira-kira gaji bulanan yang enggak banyak ini cukup atau tidak untuk pembiayaan rumah tangga selama satu bulan. Yang tadinya mau menggunakan listrik seenaknya, mau pakai air semaunya, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, internetan tinggal wi-fi, akhirnya kita harus juga merasakan bagaimana hidup hemat agar pengeluaran digunakan dengan cara yang benar-benar efektif, tidak terbuang sia-sia.
Kita pindah ke rumah yang sebenarnya bukan 100% rumah, lebih tepatnya rumah toko. Beberapa tahun kemarin ruko yang sudah dimiliki ini disewakan ke pengusaha yang membuka jasa Bimbingan Belajar untuk anak sekolah, setelah melewati tahun keduanya akhirnya mereka resmi membubarkan diri karena muridnya tidak mengalami perkembangan peserta. Selain tempatnya yang juga kurang strategis untuk pemasaran dalam jumlah besar, biaya yang mereka harus keluarkan untuk operasional yang tetap berjalan terus dan akhirnya pemasukannya tidak dapat menutupi pengeluarannya, padahal biaya sewa yang kita tetapkan juga tidak besar, murah banget malah.
Dan setelah habis masa kontraknya, ruko ini sempat dibukan lagi untuk dikontrakkan, beberapa juga sudah sempat menawar, walaupun pada ujungnya kita pilih untuk kita ubah menjadi tempat tinggal pribadi, hehehe. Sebelum punya dana buat pembelian rumah yang lebih besar tentunya. Seperti halnya ruko, luasnya pun tidak terlalu besar, hanya sekitar 45m2 ada dua lantai yang tersedia, lantai dasar yang bisa digunakan sebagai toko atau mungkin garasi, dan lantai 1 untuk tempat tinggal. Banyak yang bilang lebih mirip kontrakkan, tapi kita optimis --hahaha, pasutri baru yang sotoy-- kita mampu mengubah tempat yang sempit ini menjadi tempat tinggal minimalis yang manis, nyaman dan terlihat sedikit mewah.
Setelah kembali masuk ke ruko kita ini, akhirnya saya kembali garuk-garuk kepala, mau dibuat apa kali ini rumah sempit banget. Bolak-balik baca majalah, referensi, googling, kita masih tetap kebingungan mau dibuat seperti apa.
Maka dari itu, melalui artikel ini dan juga melalui video yang saya sudah unggah di akun youtube. Kami benar-benar membutuhkan bantuan Kompasianer yang jauh lebih berpengalaman soal dekorasi rumah, kebutuhan rumah tangga dan apapun yang menunjang kehidupan kami di rumah super sederhana ini, yang kalau pompa air dan AC dinyalakan secara bersamaan, langsung jepret ini, hahaha.
Please.. please.. please...
Kami memohon sarannya melalui komentar di video yang saya lampirkan di bawah berikut ini. Selanjutnya kita pun akan berikan info update atau perkembangan bagaimana renovasi selanjutnya di rumah ini yang saya harapkan idenya kami dapatkan dari Kompasianer semua. Kamsia... kamsia... kamsia...
Masalah yang dihadapi pasar rakyat masih itu-itu saja, pasar rakyat selalu identik dengan biang kemacetan, becek, sumpek, dagangan yang tidak sehat dan masih banyak lagi stereotip yang terbentuk dan rasanya sulit untuk dihapuskan di benak masyarakat. Dominasi pasar retail modern yang berhasil mengambil kesempatan yang terlihat sepele, namun memiliki jatah yang besar ini semakin menguatkan posisi mereka.
Padahal dari pasar rakyat lah, petani-petani kecil menggantungkan harapan mereka, tak semua petani kecil mampu menembus seleksi ketat yang dibutuhkan pasar retail modern. Tidak semua pedagang yang memiliki modal besar mampu menginvestasikan hartanya untuk menjadi investor di pasar retail modern, ada jutaan harapan hidup yang dibutuhkan pedagang di kecil di seluruh pasar rakyat yang ada di Indonesia.
Presiden Joko Widodo pada awal tahun pernah merencanakan untuk melakukan revitalisasi di 5000 pasar rakyat yang ditargetkan selesai tahun 2019. Saya kira rencana ini terlalu muluk-muluk, terlalu sulit rasanya. Silakan Anda cek sendiri pasar-pasar terdekat di tempat tinggal Anda, sudah berapa pasar yang sudah direvitalisasi? saya yakin masih sangat sedikit, atau bahkan saat ini belum tersentuh sama sekali. Persoalan yang dihadapi rencana revitalisasi 5000 pasar ini terlalu kompleks, persoalannya bukan hanya soal renovasi tempat saja. Ada masalah mental yang bermasalah juga terkait kebiasaan pedagang dan tak luput juga kebiasaan buruk pembeli yang enggan repot, enggan mau belanja di tempat yang seharusnya, pembeli lebih memilih untuk berbelanja di pinggir jalan karena lebih praktis, tidak perlu parkir ataupun berjalan beberapa langkah untuk sampai di toko tersebut.
Anda sudah tahu bagaimana nasib Blok G Tanah Abang? Revitalisasi yang dilakukan pemerintah sebenarnya sudah sangat solutif. Pedagang yang sebelumnya memenuhi jalan, dipindahkan ke kios yang lebih teratur. Laku? Iya pada bulan-bulan awal, selanjutnya pedagang kembali sepi hingga saat ini, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, mulai dari dagangan yang memang biasa-biasa saja jika dibandingkan barang yang ada di Blok A atau B yang sudah memiliki langganan tetap. Pembeli yang ogah untuk repot-repot untuk parkir menjadi salah satu pemicu Blok G kembali kehilangan peminatnya. Hasilnya, saat ini sisi trotoar kembali dipenuhi para pedagang yang sudah tidak tahan karena barang dagangan sulit laku, mereka lebih memilih "menjemput bolanya" lebih dekat.
Ada faktor lain, beberapa kebijakan yang ada di pasar juga menjadi salah satu pemicu, permasalahan pasar rakyat ini tidak akan pernah selesai. Kasus eskalator yang hanya dinyalakan saat pejabat datang, retribusi yang dinaikan tidak sesuai dengan perjanjian awal menjadi contoh permasalahan pasar yang tidak akan pernah selesai. Proses revitalisasi bukan hanya soal bangunan, tapi juga mental masyarakat yang ada di lingkup tersebut.
Bagaimana dengan kabar Pasar Santa yang sempat hits di kalangan anak muda tersebut? Pada awalnya, pasar yang dulu sangat kumuh ini bertransformasi secara signifikan menjadi pasar yang "ramah" anak muda. Kafe-kafe, jajanan ala anak muda, warung tongkrongan kopi didirikan dan mendominasi pasar ini, pasar ini mendadak jadi tempatnya komunitas kreatif, berbagai acara hadir di pasar santa. Besarnya kesuksesan pasar ini dilihat secara "cerdik" oleh para pemilik kios, harga sewa kos melonjak secara signifikan, dari yang hanya 3 juta/tahun menjadi 30 juta untuk satu bulan, benar-benar angka yang sangat fantastis dan PD Pasar Jaya selaku pengelola yang terlihat bimbang dengan keputusan yang seharusnya muncul menjadi penengah antara pemilik kios dan penyewanya.
Akibatnya apa, sama halnya dengan Blok G namun beda permasalahan, pasar yang seharusnya menjadi contoh pasar rakyat terbaik ini kembali ditinggalkan, tidak semua pedagang memiliki modal besar untuk menyewa kios dengan harga fantastis tersebut, semua pedagang rata-rata masih dalam proses "belajar", mau tidak mau harga harus dinaikkan, dan pada akhirnya konsumen enggan kembali ke pasar ini karena harga dagangan menjadi tidak masuk akal.
Hal-hal inilah yang saya diskusikan bersama para pejabat Yayasan Danamon Peduli di acara Media Gathering kemarin, berbagai fakta tersebut yang dibahas secara mendalam mengapa hingga saat ini permasalahan yang ada di pasar rakyat tidak pernah terselesaikan. Yayasan Danamon Peduli yang menjadi satu-satunya lembaga CSR yang mewakili Indonesia dalam Konferensi PBB tentang Perumahan dan Pembangunan Kota Berkelanjutan pada Oktober lalu ini, merasa tergerak untuk menciptakan atmosfer yang baik di dalam sebuah pasar rakyat, pasar yang seharusnya menjadi tempat interaksi warga, menjadi tempat yang paling mendukung kehidupan warga.
Sejak tahun 2010 mereka sudah bermitra dengan Pemerintah Pusat dan Pemda untuk ikut berperan tak hanya dalam proses revitalisasi fisik pasar, tapi juga non fisik pasar, memberikan edukasi untuk kehidupan bersih dan sehat yang seharusnya terjadi dalam aktivitas di pasar, memberikan edukasi soal literasi keuangan yang pada nantinya mampu menunjang pengetahuan pedagang dan juga peningkatan ilmu mengatur keuangan. Dan faktanya tingkat literasi keuangan Indonesia yang masih sangat minim, masih berada di bawah 23%, yang bisa menjadi salah satu alasan mengapa tingkat keuangan masyarakat Indonesia masih terlalu "jomplang" antara yang kaya dan miskin.
Faktanya pasar yang saat ini direvitalisasi masih kurang dari 500 pasar, itu mengapa alasan saya menyebut revitalisasi 5000 pasar itu terlalu muluk-muluk. Ada beberapa poin kendala selama ini dihadapi dalam proses revitalisasi. Kesiapan daerah ketika proses pembangunan, komitmen pemerintah daerah yang masih setengah hati, dan partisipasi pelaku pasar yang masih minim, tidak tahu harus berbuat apa. Maka dari itu YDP berusaha keras mengedukasi pasar-pasar yang potensial untuk diajak meningkatkan kelas mereka, pasar sudah seharusnya menjadi tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas jual beli, tapi pasar bisa menjadi penggerak kreativitas, menjadi tempat yang edukatif untuk warganya. Bisa dengan pasar yang nyaman untuk membuat acara-acara warga, dan lain sebagainya.
Idealnya pasar rakyat tradisional, seharusnya mengikuti standar yang sudah dibuat pasar modern yang lebih mengedepankan kenyamanan dan juga kebersihan. Sesimpel itu. Kita bisa ambil contoh pasar modern yang ada di Tangerang Selatan yang berada di tengah-tengah huniah mewah. Pada konsepnya pasar ini berjalan dengan benar, tapi tidak sesuai dengan lokasinya. Siapa juga masyarakat yang berpenghasilan rendah, mau datang jauh-jauh ke lokasi pasar tersebut dan rela membayar biaya parkir. Sebaliknya siapa juga masyarakat berpenghasilan tinggi mau datang ke pasar, sedangkan mereka bisa datang ke supermarket yang jauh lebih nyaman?, mudahnya perlu ada adaptasi di setiap lokasinya tidak bisa semuanya disamaratakan.
Sampai kapanpun permasalahan pasar ini tidak akan selesai, jika tidak diselesaikan secara manusiawi. Walaupun tidak juga bisa disamaratakan, pelaku pasar rakyat mayoritas memang dihuni oleh masyarakat yang memiliki pendidikan minim. Maka segala sesuatunya tidak bisa dihadapi dengan cara yang keras, karena sampai kapanpun jika dibenturkan pelaku pasar rakyat tidak akan mampu mengerti, memahami apalagi dipaksa secara cepat untuk beradaptasi.
Selama ini proses revitalisasi dibangun secara "template", tanpa hati. --Yang penting udah gw bangun, terserah lu mau dagang apa, ini yang hingga saat ini terjadi-- padahal seharusnya pasar dibangun sesuai dengan aturan yang tepat, namun disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar. Misalnya, buatlah pasar yang mampu menyediakan lokasi parkir gratis, teratur dan juga aman, menetapkan aturan untuk tidak parkir sembarangan. Tak masalah dengan preman yang menguasai lahan parkir, tapi cobalah untuk berkomunikasi dengan preman tersebut, dan meminta mereka untuk membantu menjaga ketertiban parkir wilayah tersebut. Sesimpel itu. Sama halnya dengan perlakuan terhadap pedagang, ajaklah pedagang tersebut tetap tertib berjualan di kios, bukan justru menjemput bola di pinggir trotoar.
Tapi, lagi-lagi jika mengharap dari pemerintah persoalan ini memang tidak akan terselesaikan tanpa partisipasi dari semua elemennya. Pemerintah pusat itu terbatas, hanya bisa mengeluarkan kebijakan yang terlalu sentral, Pemerintah Daerah seharusnya mampu memberikan pandangan yang tepat bagaimana seharusnya pasar di daerah tersebut dibangun.
Pedagang sudah seharusnya paham betul, mereka yang akan meraih keuntungan jika mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Dan yang paling krusial, adalah kalian para pembeli yang dianggap memiliki pendidikan lebih, seharusnya mampu memberikan edukasi dengan belanja sesuai dengan tempat seharusnya, bukan di pinggiran jalan, bukan di trotoar, bukan sengaja berhenti di pinggir jalan agar lebih praktis. Itu.
Semoga pasar rakyat yang sering disepelekan ini mampu naik kelas, menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi masyarakat bawah.
Apa yang paling membuat orang datang ke Cafe? Mayoritas penggemarnya adalah orang yang sangat suka sekali untuk nongkrong, ngobrol bareng kerabat, atau mungkin sekadar ingin istirahat, ngopi atau yang paling mainstream ke cafe hanya untuk menambah foto di linimasa Instagram. Berbagai orang punya tujuannya masing-masing ketika melangkahkan kakinya ke warung kopinya 'pebisnis' ini.
Di era serba digital saat ini pun, tak dipungkiri lagi, konektivitas dengan internet bahkan menjadi pilihan utama mengapa orang tersebut mau datang ke cafe tersebut. Anda pasti sering menemui pelanggan saat tiba di resepsionis, yang mereka tanyakan bukan menu apa yang tersedia di cafe tersebut, tapi yang mereka tanyakan pada umumnya bagaimana dengan kecepetan internet yang tersedia.
Saya pernah melihat langsung, bagaimana respon pelanggan ketika mengetahui koneksi internet di cafe tersebut mengecewakan, bukan komplain tentang masakan, tapi mengeluhkan buruknya koneksi nirkabel yang tersedia, yang sebenarnya disediakan secara gratis justru jadi biang permasalahan, dan pelanggan tersebut memutuskan untuk tidak mau membayar bill makanan yang sudah dipesan. Lucu bukan?
Perkembangan era digital memang sudah beranjak lebih jauh, tak heran rerata cafe di Indonesia selalu berlomba-lomba untuk menyajikan kenyamanan kepada pelanggannya. Rasa makanan menjadi prioritas nomor kedua, walaupun tetap makanan harus memiliki rasa yang enak.
Sabtu lalu (22/10/16), saya berkesempatan mengikuti 19 Kompasianer lainnya yang tergabung di Komunitas KPK (Kompasianer Penggila Kuliner) menuju salah satu cafe yang ada di pusat kota Jakarta.
Berada di dekat daerah yang cukup ramai dengan wisatawan lokal dan beberapa perkantoran, saya merasakan hal yang saya jelaskan di atas, di cafe yang kita sambangi ini. Up2Yu Cafe & Resto yang baru berdiri sekitar tiga minggu yang lalu, benar-benar menjanjikan kenyamanan bagi pelanggannya. Ini khas cafe-cafe yang ada di Indonesia. Soal suasanya, tempat ini sangat cocok bagi siapapun yang singgah di daerah ini.
Dengan dekorasi minimalis, Kamu akan langsung dimanjakan dengan kanvas hidup berupa kolam renang, Cikini. Walaupun sebenarnya tempatnya terpisah, pandangan tetap disatukan dalam satu bingkai. Jaminan untuk betah berjam-jam lamanya, saya garansi di tempat ini. Siapa tahu Kamu beruntung mendapatkan pemandangan Bikini di kolam Cikini.
Suasana seasik ini, saat ini bukan hanya dimiliki para pelanggan yang hanya gemar untuk nongkrong berlama-lama di cafe. Bagi kamu pekerja yang lebih demen bebas a.k.a Freelance Worker, tempat ini akan menjadi rekomendasi tempat yang sangat cocok buat kamu dibandingkan harus menyewa Co-Working Space yang harganya bisa dibilang tidak murah.
Hal ini ditegaskan Adhi Nugroho, selaku Direktur Up2Yu Cafe. Tidak ada minimun charge yang dikenakan untuk semua pelanggan, mau sebebasnya berada di sini, maka jangan heran ada banyak sekali di setiap jengkal tangan, soket listrik yang tersedia di sini.
Lagi-lagi soal kenyamanan, koneksi nirkabel adalah faktor penentunya. Up2Yu menyediakan koneksi dengan kecepatan hingga internet 50 Mbps untuk semua pelanggannya yang juga diberikan gratis. Kamu bisa bandingkan bukan dengan berapa biaya yang harus kamu keluarkan di Co-Working Space demi kecepatan internet yang mumpuni,
Up2Yu paham betul dengan kondisi ini. Seberapa lama kamu bisa bebas berada di cafe? Walaupun baru dibuka pada jam 10 dan biasanya ditutup pukul 12 malam, kadang menurut Adhi Nugroho cafe ini tutupnya "It's up to you?". Asal jangan lupa pulang saja, bisa-bisa keluarga kamu sudah lapor ke kepolisian karena dikira hilang.
Beralih soal makanan. Tentu hal ini menjadi hal wajib yang tentunya tidak dilupakan saat berlama-lama di depan layar. Apalagi ada aturan yang tidak tertulis "kalau mau nongkrong lama-lama ya jajan", rasa makanan tentunya juga menjadi syarat yang tidak bisa dilepaskan dari cafe.
Saat Gerebek kemarin, kami disuguhi beberapa menu yang menjadi andalan dan favorit pelanggan hingga saat ini. Menu utamanya ada Sop Buntut, Sapo Tahu, dan satu menu yang saya pesang Nasi Goreng Gila. Saya pesan menu ini bukan tanpa alasan, makanan jalanan bagi saya adalah makanan terbaik hingga saat ini.
Bayangkan peracik makanan jalanan ini tidak perlu menimba ilmu tinggi-tinggi untuk mendapatkan cara bagaimana membuat masakan yang sangat enak, tanpa sekolah mereka mampu membuat masterpiecenya masing-masing. Maka dari itu saya mau tahu bagaimana jika makanan yang tenar dari jalan ini, bisa diracik oleh chef yang berada di cafe.
Jangan bandingkan dengan nasi goreng gila ala jalanan, karena bagaikan buzzer salah satu cagub, saya akan sulit objektif untuk soal rasa, pendapat saya akan selalu condong ke makanan jalanan. Ada racikan yang tertinggal di nasi goreng gila ala Up2Yu ini, sekadar indera sok tahu saya, ada baceman bawang putih dengan cuka yang tidak ada di paduan rasa nasi goreng gila ini.
Bukan rasa nasi goreng ini buruk, tidak sama sekali. Nasi goreng gila alan Up2Yu ini enak, benar-benar enak tapi belum bisa dibilang istimewa, nilai yang saya berikan 8/10. Rasa nasi goreng ini sangat mirip sekali dengan nasi goreng yang biasanya kamu temui di hotel berbintang, tapi dengan bahan dan topping yang jauh lebih kompleks, bakso, sosis, telur orak-arik, ayam, dan rentetan cabe rawit.
Iyah, cabe rawit. Bagi kamu yang tidak menyukai rasa pedas, kamu mungkin akan serasa nge-gym sambil nongkrong di cafe, keringetaan buoos. Standar pedas masing-masing orang memang berbeda-beda, tapi jika memang ingin sekali mencoba, kamu bisa memesan dengan tingkat kepedasan yang tidak terlalu dominan. It's up 2 yu.
Jangan terlalu fokus ke makanan utama seperti ini, bukannya asik buat nongkrong berlama-lama justru yang ada kalian malah ngantuk setelah kekenyangan. Mari kita beralih kembali setelah mencicipi makanan berat, salah satunya kita coba satu menu mungil yang jadi favoritnya orang Sunda. Peuyeum sebagai makanan penutupnya. Beberapa makanan yang disajikan di sini beberapa memang mengadopsi dari beberapa makanan chinese, rasa italian, dan beberapa makanan khas eropa lainnya. Tapi penyajian dan rasanya tetap disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.
Tapi, sebelum beranjak ke penutup. Ada satu makanan pembuka cita rasa khas Italia, mereka memberikan menu ini dengan nama, Beef Bruschetta. Bagi saya banderol makanan ini terlalu mahal untuk ukuran pekerja kelas bawah seperti saya. Hal yang paling menarik adalah potongan roti tawar yang dibubuhi potongan daging cincang dan lelehan keju mozarella ini yang membuat nafsu makan memuncak.
Walaupun ada masukan dari salah satu Kompasianer, seharusnya menu ini akan jauh lebih spesial jika disajikan dengan Garlic Bread, saya setuju dengan masukan ini, dan pihak Up2Yu menerima masukan tersebut dan berencana untuk mencobanya.
Saya maklum menu ini baru hadir tiga hari sebelum kita datang ke cafe ini, wajar masih butuh penyesuaian dan tugas kita memang memberikan masukan yang baik. Dan tentunya masukan ini akan menjadi input yang sangat sempurna untuk menu pembuka ini. Rasanya sudah sangat pas khas Italian, lezat hanya kurang di bagian roti tawar.
Selanjutnya kita cicip Tape Bakar khas Up2Yu. Saya yang tidak terlalu suka dengan tape pada awalnya pun saya ogah-ogahan untuk mencicipinya, tape yang pekat biasanya terlalu asam untuk saya hingga yang memiliki bau alkohol yang juga sangat menyengat. Tapi dengan penyesuaian yang ciamik, dipadu dengan Cherry dan meses, tape ini sukses membuat saya jatuh cinta di kecupan pertama. Tidak terlalu asam, dan juga tidak meninggalkan rasa di tenggorokan. Menu paling the best menurut saya di cafe ini.
Sebenarnya masih banyak lagi menu yang tersedia, sayangnya perut saya sedang tidak kondusif, harusnya saya menyiapkan untuk tidak sarapan agar lebih kuat menampung. Tapi saya salah strategi. Dan beberapa menu yang juga akan disiapkan seperti Pizzaiolo dan beberapa menu yang bakalan jadi andalan cafe ini.
Cafe ini worth it buat kamu nongkrong dan betah berlama-lama buat ngerjain kerjaan sampingan kamu. Eight points from ten, for Up2Yu Cafe. Good luck!
Jika bicara budaya, Jepang mirip-mirip dengan Indonesia yang memiliki ciri kebudayaan yang cukup unik dan beragam. Anda bisa dengan mudah mengetahui bagaimana beragamnya budaya yang terjadi di Jepang, mulai dari gaya hidup yang baik hingga kelakuan-kelakuan aneh seperti menanamkan tanduk di kepala semua ada di Jepang, atau mudahnya Anda bisa baca tulisan salah satu Kompasianer yang berada di Jepang, akan selalu ada cerita menarik yang bisa dibahas.
Sebagai digital boy, akhir-akhir ini saya lagi senang-senangnya muterin musik dari Youtube karena playlist-nya yang sangat beragam, saya bisa mendapatkan update lagu terbaru dari artis-artis yang juga mulai menginvasi Youtube. Lagu terbaru mereka bukan lagi muncul paling pertama dalam bentuk CD, tapi di era saat ini lagu akan tayang perdana melalui channel yucub artis tersebut. Pergeseran model marketing di dunia musik saat ini. Tak hanya itu, selain mendapatkan musik yang fresh, Youtube seakan mampu berubah menjadi mesin nostalgia.
Ditambah lagi, melalui situs ini Anda akan dibuat merasa seperti mengikuti konser musisi tersebut, walaupun hanya dari layar. Anda akan dibuat merasa seperti hadir di acara. Dan saya selalu senang mendengarkan musik yang berasal dari video konser musisi tersebut, karena live perform bagi saya akan menentukan seberapa baik kualitas band tersebut karena tanpa melalui unsur 'editing' terlebih dahulu lewat studio. Anda akan tahu apakah band tersebut benar-benar mampu bermain sama baiknya ketika berada di studio ataupun tidak, paling mudah Anda bisa tahu apakah suara vokalisnya benar-benar sesuai dengan hasil rekaman di studio.
Berkali-kali penelusuran selama berjam-jam, otak saya terasa tersentil dengan aksi panggung dari band One OK Rock yang berasal dari Jepang. Ketika mendengarkan versi aslinya, jujur saya tidak terlalu tertarik dengan lagunya karena musik yang diusung sedikit mirip dengan Incubus, 30 Second to Mars atau saya bisa bilang ada sedikit nuansa ala Killing Me Inside, band asal Indonesia. Tapi saya sedikit tercengang ketika melihat aksi panggungnya yang digelar di stadion Jepang. Perform yang ditampilkan memang luar biasa, dari Taka sang vokalis yang memiliki stamina suara luar biasa walaupun pecicilan, enggak kalah lah sama Armand Maulana. Tapi rekan lainnya yang total hanya berempat untuk satu band, juga mampu menciptakan atmosfer yang luar biasa, dengan musik yang tanpa celah sedikitpun untuk tetap berisik.
Tapi setelah berulang kali saya putar, ada yang berbeda dan benar-benar berbeda dari penampilan mereka saat live. Ah, saya menemukan. Penonton dengan sangat antusiasnya ikut bernyanyi sepanjang konser, bersorak, membuat circle of death, headbanging. Anda bisa cek sendiri penampilan mereka saat live di Jepang, seluruh penonton mengangkat tangannya bukan untuk menegakkan kamera, bukan berusaha untuk merekam hingga menghasilkan gambar yang stabil, bukan itu. Mereka menikmati setiap gerakannya yang beriringan dengan musik yang selalu menghentak. Mereka sibuk meneriakan huruf "O" dengan irama yang sama dengan musik.
Aaah, sudah terlalu lama rasanya saya bisa menikmati suasana ini ketika Stevie Item dan Andra melengkingkan senar gitarnya, dipadu dengan suara serak Dedy yang menyanyikan lagu Alibi pada konser tunggalnya di Ancol. Atau suara melengking Kang Arul Efansyah saat melantunkan lagi Timur Tragedi saat pesta rock yang digelar di Jakarta pada saat itu. Perkembangan teknologi tanpa batasan ini salah satu yang mengikis atmosfer konser yang ada saat ini di Indonesia, bahkan saya pernah mengalami kejadian yang cukup menggelikan pada saat penugasan liputan Armin van Buuren di Ancol, harapan saya seluruh audiens mengikuti alunan trance yang dibawa Armin jauh-jauh dari Belanda, audiens justru sibuk dengan kamera henponnya. Ketika saya wawancara salah satu pengunjung bahkan mereka tidak mengetahui Armin van Buuren dan beberapa DJ lain yang dibawanya ke Jakarta, duh. Rasanya ada yang harus diubah soal budaya konser di Indonesia.
Ini yang membuat saya benar-benar ingin menelusuri, hal seperti apa yang mampu membuat audiens di Jepang itu benar-benar kompak, benar-benar menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang di sebuah konser. Jika Anda belum percaya karena One OK Rock band dari Jepang yang membuat audiens mau berjingkrak saat konser, Anda bisa cek kembali konser Mr. BIG tahun 2009 di Budokan. Walaupun saya yakin tak semua orang Jepang bisa mengikuti lirik yang dilantunkan Eric Martin, tapi mereka benar-benar sangat menikmati lengkingan gitar Paul Gilbert, betotan Billy Shehaan, dan tabuhan Pat Torpey. Semua berjingkrak, bersorak, benar-benar melupakan dahulu rutinitas sehari-hari demi menikmati musik berkelas.
Setelah membaca beberapa referensi. Ada hal-hal yang benar-benar terlarang saat menghadiri konser di Jepang.
Yap. No Photos dan No Videos akan menjadi tanda manis yang akan mewarnai beberapa spot di tempat konser di Jepang. Mau artis Jepang atau artis luar lainnya, setiap konser yang digelar di Jepang akan selalu ada larangan ini. Lumayan tegas bukan? Setiap promotor musik di Jepang akan memberlakukan larangan ini, bukan tanpa sebab karena dengan adanya larangan ini penonton diajak untuk lebih aktif dengan suasana konser. Saya ingat betul ketika Corey Taylor, vokalis Slipknot turun ke bawah stage dan membuang handphone penonton yang terlalu sibuk memijit layar dibandingkan menikmati suaranya. Ibaratnya ketika Anda presentasi di depan rapat, tapi peserta rapat justru sibuk memainkan gadget-nya dibandingkan mendengarkan Anda, rasanya saya mau ajak untuk berduel saja di tengah gurun pasir dengan revolver tersemat di kaki --lah, koboi.
Ini yang harus ditiru, tapi jika menunggu audiens sadar saya kira tidak akan ada titik temunya. Tapi harus dari promotor musik Indonesia yang harus melarang penggunaan smartphone bahkan saat di pintu masuk. Dan harusnya promotor merasa rugi ketika event yang diselenggarakan justru disebarluaskan dan digunakan untuk komersial.
Bagi saya, pemandangan ini adalah pemandangan yang cukup mengerikan untuk dunia musik. Penonton layaknya zombie yang dibius untuk tenang, dan dipaksa untuk menikmati acara, sesekali menjadi fotografer dadakan. Bukan hal yang mengejutkan jika budaya buruk ini salah satu yang membuat kualitas musik dan performa musisi di Indonesia benar-benar menurunkan kualitasnya, atau dampak terbaiknya musik Indonesia yang stagnan dan begitu-gitu saja.
Salah satu alasan, yang bisa menggerakkan kaki saya untuk pergi ke Jepang adalah menonton konser salah satu band rock yang ada di Jepang.
Keraguan akan standarisasi SNI sebenarnya diawali saat beberapa tahun yang lalu, dengan maraknya penjualan helm motor yang dibanderol dengan harga di bawah seratus ribuan, yang sering dijajakan di pinggir jalan. Di Indonesia, soal harga jangan pernah ditanya. Rumah dan apartemen puluhan miliar aja laku bak tahu bulat digoreng dadakan di pinggir jalan limaratusan, apalagi macem barang murah seperti ini.
Yang agak mengherankan helm yang dijajakan di pinggir jalan namun tidak digoreng secara dadakan itu, semuanya sudah dilabeli tanda SNI, iya Standarisasi Nasional Indonesia. Yang artinya helm tersebut sudah melewati proses standarisasi, sudah terjamin untuk digunakan konsumen. Dengan harga 70 ribuan, helm yang bisa dibilang sangat ringan sekaligus ringkih. Ini sudah distandarisasi loh, aman untuk endhasmu. Aman mbahmu kiper!
Silakan coba sendiri seperti apa material helmnya, setelah itu coba banting. Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut, karena sebenarnya helm murmer ini memang sangat menolong pengendara motor dengan dana yang cekak. Polantas pada saat itu sedang getol-getolnya razia helm yang wajib sudah memiliki cap SNI. WAJIB, KUDU! Bahkan pengendara yang menggunakan helm internasional dengan standarisasi DOT saja tetap ditilang karena belum SNI. Bayangkan jika para pengendara ini yang sehari-harinya untuk beli bensin saja sudah sulit, masih harus dipaksa membeli helm mahal yang sudah melewati proses crash test. Kreditan motor saja belum lunas, Bung.
Setelah melewati beberapa tahun, kecurigaan ini kembali muncul ketika keponakan saya yang berumur satu setengah tahun lebih dan masih unyu-unyu ini, dibelikan sepeda roda tiga yang berbahan plastik. Tertera di bagian belakang spakbor logo SNI, yang artinya sepeda ini sudah seharusnya telah melewati proses uji, sudah memenuhi standar dan kriteria yang sudah ditetapkan. Apa hasilnya?
Jangankan mau dibawa kebut-kebutan lawan mark markes sambil cari cabe-cabean. Digenjot berapa gowesan saja sudah mau rontok semua part yang menempel di sepedanya ini. Harganya bisa dibilang tidak murah juga loh, tapi apa yang mau dipakai kalau digowes saja sulit. Alhasilnya, keponakan pernah nyungsep di konblok saat sepeda ini coba digowes di jalanan depan rumah. Duh, akhirnya baru sekitar satu bulan sepeda ini terpaksa masuk gudang karena benar-benar tidak layak untuk digunakan kembali.
Apa iya, sepeda atau alat-alat bayi lainnya ini memang sudah layak untuk diberikan tanda SNI. Apa semuanya benar-benar memiliki kualitas yang baik, sesuai dengan fungsi dan kemauan dari konsumen? Jangan-jangan SNI di Indonesia ini hanya sebatas administrasi belaka, semua produk yang mendaftarkan produknya akan langsung mendapatkan standarisasi tanpa melewati proses uji. Atau mungkin ada praktik suap saat proses uji produk tersebut --ah terlalu jauh membicarakan hal ini.
Intinya, konsumen sudah seharusnya berhak mendapatkan kualitas yang terbaik sesuai dengan standarisasi. Sebagai konsumen pun, saya yakin sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu dimana batas standarisasi yang dilakukan BSN selalu pengambil kebijakan soal SNI. Mungkin saja terlalu rendah, dan ekspektasi saya terlalu besar.
Tapi jika barang itu hanya aman soal bahan, tapi abai soal keselamatan dan kualitas barang, buat apa distandarisasi? Semakin dipikirkan, semakin membuat saya yakin jika SNI di Indonesia hanya berkutat soal administrasi. Jika begitu mengapa tidak sekalian diubah saja menjadi Administrasi Nasional Indonesia, lebih singkatnya menjadi ANI.
Seandainya blogger yang memiliki penyakit-penyakit seperti yang akan saya ulas kali ini ada rumah sakitnya, saya yakin rumah sakit jenis ini akan mengalami peningkatan jumlah pasien secara signifikan. Mungkin juga enggak bakal sembuh-sembuh, menjadi penghuni rumah sakit abadi layaknya rumah sakit jiwa. Tidak satu pun dokter yang mampu mengobati pasien (blogger) ini, jika sampai kapan pun tidak pernah mampu mengidentifikasi sendiri penyakitnya --agak sedikit berlebihan sih ini pembukanya, haha--.
Perkenalkan, saya boleh disebut sebagai blogger --yang jarang nulis-- junior. Tapi dengan cara yang arogan dan sok tahu, saya akan memaparkan penyakit pertama yang paling sering menjangkiti para blogger. Blogger Sales Keliling saya akan memberikan julukannya, yang sudah getol banget kejar adsense, terdepan jika urusan ngejar traffic, apa pun makanannya, traffic adalah dewa kami katanya, panutan yang harus digugu.
Sebagai blogger kemaren sore baru mateng, salah satu cara yang baik mengembangkan diri adalah belajar dari para penggiat yang sudah lebih dahulu malang melintang di dunia ini. Selain itu, mencari ilmu dalam suatu wadah komunitas adalah cara yang terbaik untuk mendapatkan pendapat secara objektif. Jika Anda perlu pandangan, tanyalah melalui komunitas. Anda bisa mendapatkan jawaban beragam yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan ke arah mana ilmu Anda mau ditambah. Maka dari itu, saya tak pernah sungkan untuk mengarahkan tikus elektronik dan menekan tombol untuk bergabung pada sebuah komunitas digital dari kumpulan blogger, mungkin jumlahnya puluhan.
Selesai di situ? Tidak.
Pengamatan saya selama ini, sebuah komunitas digital yang saat ini cukup marak, realitasnya adalah sebagai suatu wadah untuk beberapa individu yang memiliki ketertarikan yang sama. Atau lebih lanjutnya, komunitas tersebut adalah "Rumah" bagi siapa pun penghuninya yang telah diterima dengan baik oleh komunitas tersebut. Mengapa saya menyebutnya sebagai rumah, karena melalui komunitas tersebutlah akan terbangun kenyamanan di setiap penghuninya karena memiliki minat yang sama, sama-sama mencari pengetahuan yang lebih spesifik dengan cara berdiskusi. Lalu, mengapa disebut sebagai rumah, karena pada umumnya rumah juga memiliki aturan agar aktivitas yang ada di rumah tersebut tidak bergerak secara liar.
Anda pernah dilarang orang tua ketika sedang beraktivitas yang aneh dan tidak sesuai aturan yang ada di rumah? Hal itu memang lumrah, karena orang tua adalah yang memegang hak untuk mengatur penghuni rumah tersebut agar tidak bergerak liar. Tidak suka dengan aturan, silakan pergi dari rumah.
Sama halnya komunitas yang saya sebut sebagai rumah, sejatinya ada pengelola --kita bisa menyebutkan dengan admin-- yang memiliki peran sebagai orang tua dalam komunitas tersebut, dianggap lebih memahami kondisi, dituakan atau juga paling paham dan expert di bidang yang dipilih komunitas tersebut. Perannya simpel, ada pengelola sebagai pengatur aktivitas dan penghuni sebagai pengikut dari komunitas tersebut. Sebagai penghuni sebuah komunitas sudah lazimnya mengikuti aturan yang diterapkan di komunitas, aturannya pun berbeda-beda. Anda tidak bisa mengatakan, "Di sana boleh kok, masa di sini enggak boleh."
Enggak ngerti?
Mudahnya, "Lu baca dan pahamin dulu aturannya, Tong."
***
Hal ini yang paling sering terjadi di dunia blogging. Demi mencari traffic yang masuk, secara acak, kenal juga enggak, nyambung atau enggak tuh artikel, yang penting copy-paste dulu link artikel, yang penting traffic masuk, persetan dengan pengelola dan penghuni komunitas tersebut. Saya berikan salah satu contohnya, mudah-mudahan yang saya bahas di sini sadar diri juga.
Saya sengaja tutup tersangkanya, menghindari pasal pencemaran nama buruk --sudah buruk kelakuannya ikutan buruk pula. Bayangkan tema artikel yang dibahas hanya cerita tentang kehadirannya di salah satu peluncuran produk kesehatan. Tapi yang disebar secara gerilya di beberapa komunitas blogger dengan sangat waktu singkat benar-benar jauh dari jenis komunitas yang disampahin. Komunitas otomotif lah disebar, fotografi pula, sampai komunitas karaoke ikutan disampahin pula. Lau kira Karaoke itu buruk buat kesehatan, sampai penghuni dipaksa untuk baca artikel tentang kesehatan.
Please. Setidaknya ketahui dulu itu komunitas apa, seandainya Anda menulis artikel tentang otomotif ya cukup disebar ke komunitas otomotif saja, banyak kok jumlahnya, tidak sedikit. Seandainya Anda menulis tentang bahaya narkoba, lalu disebar ke grup otomotif, trus maksud lau penghuni komunitas otomotif itu nge-drugs apa.
Spamming di komunitas regional bagaimana? Silakan saja, tapi rumahnya di mana, Pak? Masa iya mau spamming di komunitas regional yang bukan lokasi yang saat ini ditinggali, atau minimal kampung halaman sendiri. Lau sokap? Pegawai kelurahan setempat?
Di dalam komunitas itu seluruh penghuninya sama-sama mencari kenyamanan dalam ketertarikan minat yang sama. Sama-sama berada di satu wilayah yang sama, mau guyub bareng, nongkrong bareng. Waladalah, tiba-tiba muncul blogger dengan penyakit yang satu ini tebar linkdan seperti memaksa penghuninya untuk membaca artikel yang enggak guna macem begitu. Ibaratnya penghuninya dipaksa harus memakan sampah, yang sama sekali tidak diinginkan penghuninya. Masih beruntung ditelan, lah kalo digebukin balik penghuninya, nyaho ente.
Melalui artikel ini, saya dengan cara sok kenal dan sok dekat. Mengajak seluruh pengelola komunitas, khususnya komunitas yang terbentuk di Kompasiana. Sama-sama menjaga konten yang tersaji sesuai dengan kemauan penghuninya, kalau perlu ditentukan aturan yang mengatur aktivitas yang terjadi di grup. Kalo ada yang macem-macem, nebar sampah, apalagi rusuh, gebukin aja!